Leo

           Klaten, Jumat, tahun 1993, seorang bayi lahir ke bumi, bertepatan dengan Hari Anak Nasional. Sebut saja nama dia Leo. Saat kecil, dia dikenal sebagai anak yang ceria, sumeh kalau kata orang Jawa bilang, atau, begitulah yang sering diceritakan oleh orangtuanya kepadanya. Namun, hal tersebut mulai berkurang semenjak hari itu terjadi. Pada saat Leo berumur 3 tahun, dia ditinggal oleh ayahnya untuk selama-lamanya, lalu dia pindah ke tempat neneknya. 

      Masa kecilnya pun tidak berjalan menyenangkan. Saat dia SD, dia pernah menjadi korban bullying. Dia ingat betul pertama kali dia di-bully saat dia sedang mengerjakan soal di depan kelas, kebetulan saat itu habis olahraga jadi sekelas masih menggunakan pakaian olahraga, entah ada apa tiba-tiba salah satu "temannya" berada di belakangnya lalu memelorotkan celananya dan ditertawakan seisi kelas. Dia merasa sangat malu dan hanya tertunduk di bangkunya sambil menangis hingga jam sekolah pun berakhir. Kebanyakan bully yang diterimanya adalah dalam bentuk verbal, dan Leo kecil saat itu tidak mengerti salah apa hingga dia selalu di-bully. Mungkin bagi sebagian orang hanya akan berkata, "Namanya juga anak-anak", namun untuk korban bullying seperti Leo, itu benar-benar sesuatu yang serius, apalagi jika hal tersebut berlangsung selama bertahun-tahun.

          Tak hanya saat SD, saat SMP pun dia pernah di-bully. Mulai dari diejek, dipukul menggunakan buku, hingga dipermalukan oleh gurunya saat di depan kelas hingga dia menangis. Kehidupan yang seperti neraka, ditambah Leo tidak memiliki figur Ayah sebagai sosok pria yang bisa mengajarinya untuk menjadi seseorang yang tangguh dan kuat. 
        Karena sering menjadi korban bullying, hal itu benar-benar berdampak pada cara pandangnya terhadap dunia. Menjadi korban bullying benar-benar membuatnya begitu paranoid terhadap dunia. Salah satu dampak yang ia rasakan adalah setiap kali dia ke suatu tempat, dia selalu memikirkan bagaimana orang lain akan berpikir terhadapnya, "Hey, bagaimana kalau orang-orang di sana membenciku? Bagaimana kalau orang-orang di sana menatapku dengan pandangan merendahkan? Bagaimana jika aku tidak bertingkah layaknya orang normal dan mereka akan mencemoohku karena hal tersebut?" dan pemikiran-pemikiran paranoid lainnya yang tidak seharusnya ada. Karena itu pula dia tidak memiliki begitu banyak teman karena dia memiliki trust issue semenjak menjadi korban bullying dan tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk berteman dengan orang lain, semua disimpan sendiri olehnya tanpa ada orang lain untuk berbagi keluh kesah masalahnya.

         Masa kuliah merupakan masa yang berbeda baginya, karena di masa ini dia memperoleh teman-teman yang mau menerimanya apa adanya. Awal masuk kuliah tetap saja menyeramkan baginya karena dia akan bertemu orang-orang baru di lingkungan yang baru pula baginya, ditambah dia hanya mengikuti ospek sehari yang menyebabnya dia tidak kenal dengan siapapun yang satu kelas dengannya. Saat itu Leo hanya duduk di tangga sembari menunggu jam untuk mata kuliah pertamanya di hari itu. Dia cukup kebingungan karena kelas tersebut sudah mulai dan dia tidak tahu apakah itu kelasnya atau bukan, dia juga terlalu takut dan malu untuk bertanya jadi dia hanya duduk di sana dan menunggu. Tak lama, kelas tersebut selesai, namun dia tetap menunggu hingga ada seseorang yang lewat dan memanggilnya, dan menyuruhnya ikut masuk ke kelasnya. Ternyata orang yang memanggil tersebut adalah salah satu teman sekelasnya, dan hal sederhana seperti itu benar-benar mengubah ketakutannya terhadap teman-teman barunya, "Hei aku hanya ikut ospek sehari namun dia tahu kalau aku teman sekelasnya", pikirnya, dan saat itu Leo benar-benar merasa ada yang peduli padanya, dan dia benar-benar respect dengan temannya itu. Sejak saat itulah dia merasakan pengalaman yang berbeda pada masa kuliah dibandingkan dengan saat dia menjadi korban bullying saat SD dan SMP, mungkin masa itulah masa yang benar-benar menyenangkan baginya.

       Pada masa ini pula dia juga benar-benar tahu apa itu cinta dan hampir mengakhiri hidupnya karenanya. Setelah sekian lama, dia akhirnya bertemu dengan seseorang yang pernah disukainya saat SMP, dia memberanikan diri untuk mengawali obrolan dengannya, sebut saja dia Vio. Ternyata, respon Vio begitu baik. Obrolan pun berlanjut hingga mereka bertemu satu sama lain. Di mata Leo, Vio tidaklah berubah, tetap cantik dan menawan, bahkan dia tidak menganggap Leo sebagai orang yang mengganggu ataupun segala hal buruk lainnya. Dari situlah Leo benar-benar menyukainya, semua hal berjalan dengan baik, cinta pun tumbuh di antaranya. Suatu waktu, Leo benar-benar bertekad untuk melamarnya karena dia benar-benar serius dan menganggap bahwa Vio adalah orang yang tepat, padahal saat itu mereka masih sama-sama kuliah. Namun, seperti halnya kehidupan, tidak semua hal berjalan sesuai perkiraan. Saat itu, awal tahun 2013, tiba-tiba Vio mengirimkannya pesan, "Jangan hubungi aku lagi", pesan yang cukup singkat namun penuh dengan mimpi buruk di baliknya. Setelah Leo sedikit memaksanya tentang apa alasannya, ternyata Vio akan menikah dengan orang lain. Hal itu benar-benar membuat Leo hancur sehancur-hancurnya. Semua niat baik yang ingin dia lakukan seolah runtuh begitu saja, orang yang benar-benar dia cintai pergi begitu saja. Seluruh tubuhnya lemas, tak tahu harus berkata apa, dan pada malam itu Leo menangis, hancur, merasa sekarat, ingin mati saja rasanya. Sempat terlintas di pikirannya untuk mengakhiri hidupnya. Rasa sakit yang dirasakannya terus menerus membuatnya tidak kuat. Dia mencoba meminta tolong kepada Tuhan, dia mengambil air wudhu, beribadah, dan menangis di setiap sujudnya. 

     Seolah Dewi Fortuna tidak menyukainya, saat dia terpuruk, ada seseorang yang berusaha menghampirinya. Dia bertingkah begitu perhatian, begitu peduli, begitu baik, dan begitu manja, membuat Leo sejenak bangkit dari keterpurukannya dan mulai mencoba membuka hati untuk wanita itu. Sebut saja wanita ini Rati. Rati yang begitu baik membuat Leo sempat luluh kepadanya, pergi ke mana pun Leo yang traktir, ketika Rati butuh berbagai macam barang pun Leo bersedia untuk meminjaminya, bahkan ketika dia merusakkan barangnya  Leo, Leo memaafkannya begitu saja, seolah menjadi budak cinta yang menyedihkan. Puncaknya, ketika Rati bercerita bahwa dia memerlukan biaya satu semester untuk menyelesaikan skripsinya, Leo yang memang suka dan sekaligus kasihan dengannya dengan baik hati meminjaminya uang untuk menyelesaikan skripsinya tanpa menaruh curiga sedikit pun. Naas, setelah hal itu, Rati benar-benar berubah 180 derajat, dia menghilang begitu saja, saat Leo mencoba menghubunginya, alasannya hanyalah dia ingin fokus menyelesaikan skripsinya dan menghilang sejak saat itu. Saat itu Leo sadar dia sudah dimanfaatkan oleh Rati selama ini, semuanya sudah terlambat. Leo yang memiliki trust issue, ketika ia mulai mencoba untuk memercayai Rati, dia merusak kepercayaannya begitu saja. Bak sudah jatuh tertimpa tangga.

         Meski banyak sekali hal baik dan buruk yang terjadi padanya, semakin dia dewasa semakin dia belajar tentang kehidupan, membuatnya semakin bijak dalam menjalani hidup. Dia selalu berusaha untuk belajar dari masa kelamnya, dari segala hal yang dialaminya, dan juga berusaha untuk menghilangkan paranoidnya dari hal-hal buruk yang pernah dialaminya di masa lampau. Sulit memang terutama tanpa Ayah sebagai sosok panutan untuknya, namun dia tetap berusaha sebaik mungkin dan semoga suatu hari nanti Leo mampu menjadi sosok pria yang tangguh dan bijak, serta jauh lebih baik dari sebelumnya. Setelah semua yang dialaminya selama ini, Leo masih berdiri tegap di atas bumi ini, masih dapat menghirup udara segar, menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya dari waktu ke waktu dan masih banyak petualangan dalam hidup yang menunggu.

Dan tepat pada hari ini, 23 Juli 2018, teruntuk Leo, penulis ingin mengucapkan...

"Happy Birthday To Me"

Comments